Novriantoni Kahar, Dosen Universitas Paramadina
Makalah ini mengulas tentang beberapa pertanyaan yang berkecamuk di kepala banyak orang, atau saya pribadi, tentang kemunculan ISIS yang sangat fenomenal. Berbeda dengan kakak kandungnya, al-Qaidah, yang melakukan sistem waralaba teror secara sporadis, ISIS tampak lebih sistematis dan punya ambisi penguasaan wilayah. ISIS pun tampak lebih brutal dan tidak segan-segan mengobarkan kekacauan sektarian Sunni-Syiah sehingga petinggi al-Qaidah, Ayman al-Zawahiri,pun keberatan dengan langkah-langkah yang ditempuh ISIS dan cikal-bakalnya, al-Qaidah di Irak (AQI) yang dipimpin Abu Musab al-Zarqawi. Belum lagi hilangdari ingatan kita tentang horor penyembelihan tawanan, ISIS kembali mengejutkan kita dengan teror yang lebih hebat, membakar orang hidup-hidup. Jika membaca alam pikiran ISIS, tidak mengejutkan bila dunia masih akan terus disuguhi kebrutalan yang lebih dahsyat lagi. Semua mereka pertontontan dengan bangga dan sengaja, dan kita dan dunia seperti tak berdaya melakukan apa-apa. Untuk menjawab dan memberi gambaran tentang makluk ISIS, di sini saya menjabarkannya dalam lima tesis.
Pertama: Kekhilafahan ISIS Sudah Tegak, Akankan Terus Eksis dan Ekspansif?
Tak dapat dipungkiri lagi, ISIS sudah menjadi sebuah kekuatan politik Salafi-jihadi yang telah menjelma sebagai entitas yang telah memenuhi unsur-unsur sebuah negara: penguasaan wilayah, adanya penduduk, dan wujudnya fungsi pemerintahan. Sampai makalah ini ditulis, mereka telah menguasai teritorial yang lebih panjang dan lebih lebar dari Inggris Raya, atau kurang lebih separuh Irak ditambah sepertiga Suriah. Jumlah penduduk yang bermukin/terkepung di wilayah-wilayahyang dikuasai ISIS saat ini tak kurang dari 6 juta jiwa, bahkan BBC menaksirnya sekitar 8 juta jiwa.
Mereka pun telah mempunyai struktur pemerintahan yang bahkan dipimpin oleh seorang Khalifah yang diklaim dari keturuan Rasulullah. Mereka punya aparatus negara yang mampu menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan seperti laiknya. Jadi, ISIS adalah sebuah negara (khilafah?) yang sudah tegak dan eksis,walau dalam batas-batas teritori yang masih dipersengketakan. Eksistensi dan ambisi ekspansifnya telah dieksplisitkan dalam sebuah motto dalam dua patah kata: baqiyah (eksis), wa tatamaddad (dan masih akan meluas).
ISIS pun dikenal sebagai kekuatan politik yang relatif independen, baik dalam segi keuangan maupun persenjataan. Pada sebagian, ISIS bahkan dianggap sebagai organisasi teror terkaya di dunia saat ini. Penguasaan mereka atas kilang-kilang dan tempat penyulingan minyak dan gas di Raqqa maupun Deir Ezzour di sebelah timur Suriah, setidaknya telah memberi pemasukan tak kurang dari 2 juta dolar Amerika per hari. Lewat penaklukan atas kota Mosul dan penguasaan Bank Sentral Irak, mereka berhasil mengondol sekitar setengah miliar dolar Amerika. Ini belum lagi pendapatan dari harta pampasan perang, pajak, bisnis keamaanan, uang tebusan dari aksi-aksi penculikan, dan lainya.
Dari sisi persenjataan, ISIS pun kian mumpuni. Mereka berhasil merampas penampungan senjata tentara Irak, terutama tatkala menguasai Mosul. Mereka punya tank, pesawat, juga rudal buatan Amerika. Mereka berhasil pula merampas senjata Tentara Pembebasan Suriah di Mena Azaz dan fasilitas militer lainnya dari bala tentara Suriah saat merebut Raqqa, Deir Ezzuor, dan Aleppo. Semua itu cukup bagi ISIS untuk percaya diri bahwa negara Islam mereka akan mampu bertahan, memanjang, dan atau melebar.
Aksi simbolis mereka dalam menghancurkan garis batas negara bangsa yang tertuang dalam Kesepakatan Sykes-Picot (1913) pada Juni 2014 lalu menunjukkan bahwa mereka punya tekad untuk mengubah peta Timur Tengah. Tak ayallagi, beberapa negara sudah tampak kuatir dan waspada. Arab Saudi yang getol menyokong kaum Salafi-jihadi macam ISIS--bersama Qatar, Uni Emirat Arab,Kuwait, dan Turki--dalam proyek penggulingan Bashar al-Assad di Suriah, kini mulai sadar bahwa mereka pun sedang dalam ancaman. Saudi bahkan merancang pembangunan tembok sepanjang ratusan kilometer di perbatasan mereka dengan Irak, demi menangkal penetrasi ISIS. Namun bagi sebagian pengamat, dengan berbagai pertimbangan, negara paling rentan akan penetrasi ISIS saat ini justu Yordania.[2] Aksi membakar pilot Yordania hidup-hidup yang disiarkan ISIS pada awal Februari 2015 lalu dapat juga dibaca sebagai upaya mereka untuk memprovokasi Yordania agar terlibat dalam kancah peperangan.
Prediksi Noah Feldman di atas saya kira masih duduk dimeja tunggu, karena negara yang kini nyata-nyata diambang sodokan ISIS adalah Libya. Mereka telah menguasai Sirte, kota kelahiran mantan diktator Libya, Moammar Khaddafi. ISIS juga rajin bermanuver di kawasan Semenanjung Sinai, Mesir. Namun dengan masih berfungsinya pemerintahan Abdul Fattah Sissi dan solidnya tentara Mesir dalam menghadapi terpaan Musim Semi Arab--walau dengan tingkat kebrutalan yang kembali mengatarkan Mesir ke era otoriter--saya kira Mesir masih jauh dari rentan. Justru kekacauan Yaman yang sangat mungkin dimanfaatkan ISIS yang tampak pandai bermain di air keruh. Kita masih menunggu, bagaimana mereka memainkan sentimen Sunni-Syiah di negara yang kini mulai dikuasai pemberontak Houti yang Syiah itu.
Dalam pengamatan saya, negara-negara yang tidak stabilakan jauh lebih rentan disusupi ISIS dibandingkan negara yang relatif stabil dengan pemerintahan dan aparatus keamaan yang masih berfungsi. Keteguhan dan kesiapan itulah pesan yang mungkin ingin ditunjukkan penguasa Yordania, Raja Abdullah, dalam aksi heroiknya tatkala menggempur wilayah-wilayah ISIS dengan pesawat tempur yang ia supir sendiri. Bukan sekadar membalaskan dendam kematian pilotnya, tapi demi menyampaikan pesan: Yordania solid dan siaga dalam menghadapi ancaman ISIS.
Kedua: ISIS Bukan Produk Amerika, Konspirasi Zionis, apalagi Syiah.
Meski blunder-blunder yang dilakukan Amerika maupun pemerintahan Irak pasca invasi yang menumbangkan rezim Saddam Hussein (2003) begitu fatal, fenomena ISIS tetaplah merupakan adonan dari banyak faktor. Secara ringkas, ISIS adalah aktor independen yang terbuat dari banyak bahan-bahan: (1) kekacauan pasca invasi Amerika di Irak (2003-2011), (2) kegagalan negara bangsa, (3) arus balik Musim Semi Arab, (4) dan“Perang Dingin” aktor-aktor penting di kawasan Timur Tengah. Faktor keagamaan seperti menguatnya ideologi Salafi-jihadi dapat pula ditambahkan sebagai pelengkap.
Pertama, kesalahan pengelolaan Irak pasca-Saddam oleh Amerika dan Pemerintahan Pusat di Baghdad adalah jembatan emas yang mengantarkan kelompok-kelompok perlawanan bersenjata semacam ISIS ke panggung pergolakan Timur Tengah. Hadirnya pasukan asing di sebuah negara Muslim masih menjadi bahan bakar yang sangat ampuh untuk menyalakan dan menggelorakan semangat jihad di kalangan sebagian kelompok bersenjata. Khusus menyangkut ISIS, blunder-blunder kebijakan Amerika maupun pemerintahan Irak berdampak jauh sampai ke eksistensi Irak sendiri sebagai sebuah negara bangsa. Dari sisi Amerika, kebijakan de-Baatifikasi birokrasi dan pembubaran tentara Irak dalam jumlah yang massif telah membuat Irak pasca-Saddam kehilangan kemampuan untuk menjalankan fungsi pemerintahan dan mengembalikan stabilitas.[3]
Tak kunjung pulihnya tentara nasional Irak tak ayal lagi membuat perlawanan kaum Salafi-jihadi-Sunni seperti Jamaat Tauhid wal Jihad (di bawah pimpinan Abu Mus’ab al-Zarqawi yang nantinya akan menjelma sebagai pemimpin al-Qaidah di Irak) maupun milisi Syiah seperti Tentara al-Mahdi (dibawah pimpinan Muqtada al-Sadr, 2003) justru lebih leluasa berkembang dan tak mampu dikontrol Pemerintahan Pusat. Terlebih lagi, Irak pasca-Saddam juga merupakan hadiah terbesar Amerika untuk Iran sehingga menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan sekutu Amerika seperti Saudi dan Turki. Karena konfrontasi langsung antar negara nyaris tak mungkin, baik Saudi maupun Turki mewakilkan perseteruan mereka dengan Iran lewat kancah perang tak langsung (war by proxy) kepada pihak-pihak swasta seperti kaum Salafi-jihadi di Jabhat Nusrah, ISIS,maupun Tentara Pembebasan Suriah.
Kegagalan mengelola negara bangsa di masa-masa transisi di Irak pun merupakan buah dari politik zero sum games dunia Arab dan perpecahan sektarian Sunni-Syiah yang fatal. Kegagalan itulah yang ditampakkan pemerintahan Nuri al-Maliki semasa kepemimpinannya (2006-2014). Kecenderungan sektarian al-Maliki dalam bernegara juga ikut berkontribusi langsung terhadap membesarnya ISIS yang mendapat limpahan barisan eks-tentara Saddam Hussein, kawasan Sunni yang sakit hati, dan kepala-kepala suku yang terpinggirkan.
Blunder paling fatal al-Maliki terjadi pada 2009, tatkala Amerika menyerahkan 100.000-an tentara baru Irak yang terlatih, yang pada umumnya dari kalangan Sunni. Mereka ini adalah orang-orang yang ikut menjaga stabilitas Irak sebelum hengkangnya Amerika (Desember 2011) dan telah berjibaku melawan kaum jihadis. Namun tingkat kepercayaan al-Maliki yang rendah terhadap loyalitas kaum Sunni telah membuatnya gelap mata dengan membuang separuh jumlah itu dan memakai separuh lainnya di posisi-posisi sipil yang tidak penting. Ia mengulangi blunder yang sebelumnya dilakukan oleh Bush. Menurut Abdel Bari Atwan, pembelotan para desersi Sunni ini merupakan hadiah terbesar dari Pemerintahan Pusat di Baghdad kepada Khalifah al-Baghdadi, pemimpin ISIS.
Inilah rahasia kenapa ISIS begitu kuat dan tampak cakap sekali menjalankan taktik dan strategi perang. Mereka bukan hanya terdiri dari kaum jihadis mancanegara (foreign fighters) yang umumnya bermodalkan nekat dan angan-angan akhirat, tapi juga meliputi banyak unsur: salafi-jihadi lokal maupun mancanegara, pasukan sakit hati eks-rezim Baats dan Sunni, serta kepala-kepala suku lokal yang gampang berganti patron kepada pihak yang terkuat.
Artinya, eksisnya ISIS dan menguatnya pengaruh mereka tak ayal lagi juga merupakan akibat dari kegagalan negara bangsa. Aspek kegagalan yang paling kentara adalah ketidakmampuan menjaga kedaulatan batas-batas negara, menghadirkan stabilitas, dan mengelola kemajemukan. Hasilnya, kini wilayah Irak dan Suriah kembali diperebutkan dan ISIS adalah salah satu kekuatan yang kini menjadi aktor utama dalam menggoreskan peta baru Timur Tengah. Kemampuan menghadirkan stabilitas juga menjadi pertaruhan semua kelompok.
Yang paling malang adalah nasib kemajemukan. Irak pra-ISIS adalah negara federal yang terdiri dari kantong-kantong wilayah Syiah, Sunni, dan Kurdi. Secara teortik, dalam kerangka nasionalisme, semua dapat berhimpun dalam suatu negara asalkan punya landasan hidup bersama yang netral. Namun kini, kemajemukan itu yang justru dipersoalkan dan tercabik-cabik. Dengan ideologi yang terbuka saja sebuah negara bisa tercerai, bagaimana mungkin kelompok macam ISIS membangun imperium dengan mengusung ideologi tertutup yang justru menegasikan keragaman? Kita masih harus menunggu solusi khilafah terhadap paradoks mendasar ini.
Menguatnya ISIS juga tak bisa dilepaskan dari kegagalan musim Semi Arab, terutama di Suriah. Dari 5 negara yang terdampak arus Musim Semi Arab (sebetulnya 6 jika ditambahkan Bahrain), tampaknya hanya Tunisia yang masih menjanjikan masa transisi demokrasi yang berhasil. Mesir kembali ke sistem otoriter, Yaman dan Libya tak jua kunjung stabil, dan Suriah menjadi kancah perang tak langsung antara semua aktor-aktor penting kawasan. Musim Semi demokrasi Timur Tengah tampaknya sedang menenggak racun mematikan dalam bentuk ancaman sektarianisme. Terutama dimotori dan disponsori Saudi, sektarianis memerupakan strategi serangan balik terhadap angin perubahan (sectarianism as counter-revolution) yang kini menerpa kawasan.[4]
Tidak mengherankan bahwa kisah Musim Semi Arab yang pada mulanya indah begitu rupa, kini berganti menjadi kisah kelam seribu satu malam tentang pertentangan sektarian. Bahkan kebijakan anti-Syiah tak hanya menjadi komoditas dalam negeri bagi Saudi yang menyaksikan pergolakan minoritas Syiah di timur, namun menjadi komoditas impor unggulan dalam kebijakan luar negeri mereka (anti-Shi’ism as foreign policy).[5] Karena itu tidaklah mengherankan, simplifikasi konflik Irak dan Suriah menjadi semata-mata soal permusuhan Sunni-Syiah sangat kuat terdengar gaungnya sampai ke Asia Tenggara dan Indonesaia. Di titik inilah kita sedih dan perlu waspada!
Perang dingin antar aktor-aktor penting di kawasan juga sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan ISIS.[6]Saudi kini secara agak berlebihan merasa dirinya sedang mengalami ancaman eksistensial karena dikepung oleh negara-negara dengan komunitas Syiah. Di timur laut dia berbatasan langsung dengan Irak yang kini berkiblat ke Teheran, ada juga Libanon dan Suriah di barat laut, dan di timur pun ada pergolakan kecil Syiah Bahrain. Kini jiran di selatan, Yaman, juga telah dikuasai kelompok Houti yang Syiah.
Tak hanya soal laga Elclasico Saudi vs Iran, perang dingin kawasan ini juga melibatkan Turki yang memberi banyak keleluasaan bagi masuknya jihadis mancanegara di perbatasan mereka dengan Irak dan Suriah, demi menjungkalkan Bashar al-Assad yang dibeking Iran dan Hizbullah. Perang dingin ini ikut membesarkan ISIS karena masing-masing aktor di kawasan tidak dapat bersepakat dalam satu agenda. Namun setelah ISIS membesar, proyek menumbangkan Assad yang non-ekspansif tampaknya tak lagi menjadi agenda yang lebih penting dari ancaman ISIS yang ekspansif. Namun kesadaran ini mungkin saja sudah terlambat, akar-akar ISIS mungkin pula sudah kian kokoh dan tak mudah lagi dicerabut dari daerah-daerah yang mereka kuasai.
Ketiga: Aspek Eskatalogis ISIS Penting, namun Bukan Faktor Penjelas yang Memadai
Selain ulasan tentang aspek kondisional dan politik kawasan, ulasan tentang aspek kultural-asketologis yang menjadi energi penggerak ISIS juga kini marak. Ulasan tentang aspek ini memang berguna untuk memahami cara pandang dan dorongan internal kaum jihadis seperti ISIS untuk berbondong-bondong untuk berperang dan hijrah ke negara Khilafah. Selain dogma soal wajibnya tegak khilafah, perlunya berbaiat di dalam hidup seorang Muslim, dan doktrin tentang pentingnya jihad sebagai kewajiban yang terlupakan, yang tak kalah menarik adalah pandangan mesianik kaum jihadis ini tentang mendekatnya perang akhir zaman (armageddon).
Pandangan mesianik ini sangat penting bagi ISIS, terutama hadis tentang perang pamungkas di Dabiq (sebuah daerah dekat Aleppo yang juga menjadi nama majalah terbitan resmi ISIS). Hadis tentang ini sangat populer di kalangan jihadis, diriwayatkan oleh Abi Hurairah. Ia menyatakan bahwa “kiamat tak akan terjadi sampai tentara Romawi singgah di Amaq atau Dabiq. Mereka lalu diserbu oleh bala tentara dari Madinah yang merupakan penduduk dunia terbaik di kala itu.” Karena itu, kaum jihadis umumnya menganggap apa yang mereka lakukan di Suriah dan Irak saat ini juga merupakan langkah untuk menjemput/menyegerakan nubuat tentang perang akhir zaman itu. Solahudin pernah mengulas soal ini, dalam paparannya tentang daya tarik jihadis Indonesia untuk berangan-angan dan berangkat ke Suriah atau Irak.[7]
Mengulas aspek seperti ini memang menimbulkan keasyikan tersendiri dan dapat pula membawa kita ke alam pikiran kaum jihadis. Namun sebagaimana ditegaskan Shadi Hamid, aspek ideologi saja tak akan mampu menjelaskan apa dan mengapa begitu banyak jihadis lokal dan mancanegara yang berbondong-bondong berhasil masuk ke Suriah dan Irak, bila kita tidak menelisik soal lingkungan politik yang kondusif untuk kepentingan mobilisasi mereka.[8] Dan ini pun bukan pertama kali adanya gerakan dan kelompok yang bermimpi menyaksikan nubuat Nabi tentang Dabiq. Menurut Hassan Hassan, penulis buku ISISyang paling top saat ini (ISIS: Inside the Army of Terror), gagasan mesianik semacam ini sudah sering muncul dalam sejarah, jauh sebelum ISIS.
Di tahun 1990an, misalnya, kelompok Sulukiyyah dari kalangan Syiah Nejeb pernah punya angan-angan eskatologis serupa. Yang menarik dari ulasan Hassan adalah catatannya bahwa bagi sebagian umat Islam, nubuat ini sesungguhnya telah terpenuhi sehingga sudah kadaluarsa atau berakhir masa berlakunya, terutama sejak Mehmet sang Penakluk berhasil menaklukkan kota Istanbul via jalur Dabiq sehingga Turki sampai kini menjadi sebuah negara Muslim.[9]
Keempat: Kebiadaban Bukanlah Aksi Serampangan, Namun Tertuang di Buku Pandauan
Kekejian dalam situasi konflik atau perang memang bukanlah inovasi murni ISIS. Menyetankan dan memperlakukan musuh secara biadab sudah sering terjadi dalam konflik dan perang apapun. Namun bila yang lain melakukan sembunyi-sembunyi sampai terungkap di kemudian hari, ISIS justru mempertontonkannya kepada khalayak dunia. Ini membuat dunia bertanya-tanya, apakah ISIS tidak berpikir bahwa itu justru akan memperburuk citra mereka (dan juga agama yang mereka peluk) serta memberi bukti yang cukup kepada masyarakat internasional untuk menjerat dan menyeret mereka sebagai penjahat perang? Jika itu dipakai ISIS sebagai bagian dari propaganda perang urat syaraf terhadap musuh-musuh mereka, kenapa tak disampaikan saja kepada pihak yang bersangkutan?
Setidaknya ada tiga buku yang layak kita baca untuk menyelami jalan pikiran ISIS dengan mempertontonkan aksi-aksi brutal itu. Ketiganya adalah Idarat at-Tawahhusy (Mengelola Kebrutalan, 2004), Khuttah Istiratijiyyah li Ta’ziz al-Mauqif al-Siyasi li Daulatil Islam fil Iraq(Langkah Strategis untuk Mengokohkan Posisi Politik Negara Islam di Irak, 2010), danI’lamal-Anam bi Miladi Daulati al-Islam (Pemberitahuan kepada Umat Manusia tentang Lahirnya Negara Islam, tanpa tahun).
Kitab Khuttah memuat langkah-langkah korektif yang dilakukan ISIS untuk memperbaiki hubungan mereka dengan masyarakat Irak dan strategi terukur dalam mengucilkan pemerintah Irak. I’lamul Anam adalah buku fikih politik yang bersifat teoretis karena menyangkut ulasan tentang alasan-alasan tentang perlunya negara Islam dan aspek-aspek turunananya. Yang paling penting diulas dan berkenaan langsung dengan aksi-aksi ISIS terkini adalah buku Idarat Tawahhusy yang versi Inggrisnya berjudul the Management of Savagery.
Menurut Abdel Bari Atwan, mempertontonkan kebengisan adalah bagian dari aksi strategs ISIS dalam melancarkan perang urat syaraf kepada musuh-musuhnya. Strategi itu sebagian berhasil, umpamanya dengan berbuah kemudahan merebut kota-kota seperti Deir Ezzor, Raqqa, Mosul, Ramadi, Falluja, yang takluk tanpa peperangan sengit. Musuh-musuh ISIS efektif dibuat gentar nyali mereka lewat propaganda-propaganda kebengisan ini. Keberhasilan ISIS paling gemilang adalah tatkala 1.300 orang pasukan mereka membuat 60.000 pasukan Irak di Mosul membalik badan dan melarikan diri ke daerah-daerah Kurdi seperti Erbil. Memang keengganan berperang demi Pemerintahan Pusat di Baghdad merupakan penyebab utama, tapi rasa gentar terhadap ISIS juga ada.
Bagi Atwan, buku karangan teoretisi Al-Qaidah, Abu Bakr Naji, ini dapat dianggap sebagai upaya untuk merasionalisasi dan menjustifikasi pentingnya menggunakan kebengisan dalam situasi konflik. Kita dapat melihat relevannya kitab Idarat dari 3 fase kritis perjuangan yang dicanangkannya. Fase pertama adalah fase nikayah wal inhak. Fase ini adalah periode di mana kaum jihadis terus-terus mengganggu, membuat jengkel (nikayah), dan menguras energi musuh-musuh mereka (inhak) yang digdaya macam Amerika sekali pun. Inilah yang dilakukan kaum jihadis secara konsisten terhadap Amerika di Afghanistan dan dijalankan secara efektif oleh ISIS di Irak. Mereka seperti tidak kuatir kehilangan apa-apa, namun musuhnya (Amerika) sangat terganggu, jengkel, dan terkuras karena mesti mengeluarkan banyak energi dan sumberdaya.
Fase kedua adalah fase idarat tawahhusy (Menggoreng atau Mengelola Kebiadaban). Di fase ini, ISIS menunjukkan segala cara dan sumber daya untuk menghancurkan musuh-musuhnya, terutama tatkala moral mereka sedang lemah. Jika bom, itu haruslah ditaruh di banyak tempat, bersifat massif, dan sangat eksplosif. Di Irak mereka melakukannya hampir tiap pekan dan berketerusan. Di fase ini, mereka harus menunjukkan kalau mereka tidak punya perikemanusiaan sehingga musuh berpikir panjang untuk melawan mereka dalam peperangan. Jika mereka menuntut tebusan dan tidak dipenuhi, maka mereka akan menghukum tawanannya sekejam mungkin. Intinya, ISIS akan menunjukkan kepada musuhnya, mereka siap kembali ke titik terendah hukum rimba, dan itu fase yang penting demi tegaknya khilafah yang merupakan fase ketiga.
Kaidah emas ISIS dalam menjustifikasi segala kekejianini adalah: kebrutalan yang paling bengis sekalipun jauh lebih bisa ditolerir ketimbang stabilitas di bawah naungan sistem yang kafir.[10]Pada titik ini, tampak sekali bahwa al-Qaidah dan ISIS sudah memprakondisi dan mengantisipasi perlunya kekacauan dan tindakan barbar demi membuka jalan bagi pengaruh mereka di masa vakum pergolakan politik Timur Tengah. Kemiripan antara tiga fase kritis perjuangan ISIS ini dengan 3 fase perang gerilya dari buku klasik Mao Zedong,On Guerrilla Warfare, telah membuat sebagian pengamat berandai-andai bahwa al-Qaidah dan ISIS mungkin saja telah menimba inspirasi dari Cina dalam mengarang manual dan panduan jihad mereka.[11]
Kelima: ISIS Terlanjur Menjadi Monster yang Kuat, Bagaimana Menanggulanginya?
ISIS telah terlanjur menjadi sebuah kekuatan besar dan memiliki teritori yang luas berkat kontribusi banyak pihak. Dengan kesediaan mereka untuk kembali ke titik nol peradaban umat manusia sekali pun, dunia internasional, terutama Negara-negara Arab, masih juga belum menunjukkan langkah yang padu dan terukur dalam menanggulangi pengaruh ISIS dan meminimalisir efek destruktifnya. Serangan udara sporadis pasukan koalisi telah dilancarkan 6 bulan lebih, namun belum ada satu kota yang telah dikuasai ISIS pun yang berhasil direbut kembali. Pesawat tempur memang cukup berhasil menahan laju ekspansi mereka, tapi untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang telah mereka duduki diperlukan kerja ekstra.
Sejauh ini, belum ada opsi menurunkan pasukan darat untuk bertempur melawan ISIS. Yang ada baru upaya mendukung logistik kelompok-kelompok Suriah dan Irak untuk berhadap-hadapan dengan ISIS. Itu tampaknya tak akan banyak berhasil. Lalu apakah ISIS akan terus eksis bahkan lebih ekspansif? Kita tidak bisa menentukannya karena tergantung banyak faktor. Yang pasti, ISIS bukan tanpa kelemahan. Walau sekilas tampak mampu menyatukan mayoritas warga Sunni di Suriah dan Irak di bawah kepemimpinan al-Baghdadi, ISIS juga punya kemampuan unik dalam hal merapatkan barisan musuh-musuhnya. Ini terbukti, musuh nomor wahid kawasan saat ini bukan lagi rezim Bashar al-Assad, namun pelan-pelan beralih kepada ISIS.
Iran dipastikan tidak menyukai ISIS karena kental dan brutalnya ideologi anti-Syiah mereka. Saudi pun sudah mulai cemas karena Salafis merevolusioner macam ISIS dapat saja menggoncang tiga pilar negeri Wahabi itu: Satu Penguasa, Satu Kekuasaan, Satu Masjid.[12]Monster ISIS tak hanya dapat menjadi mimpi buruk bagi Saudi dan Iran, tapi juga Turki, Yordania, Libya. Banyak negara yang akan kalah bila ISIS berjaya. Namuntak ada yang pasti sampai kapan ISIS bertahan seperti tak pastinya nasib para pengungsi Irak dan Suriah yang terlunta-lunta sampai kapan entah. Perkiraan saya, kisah ISIS ini masih akan panjang dan mengandung banyak pelajaran. Semoga derita Irak dan Suriah tidak lama, dan kita di Indonesia tidak pula terkena getahnya!
Footnotes:
[1]Makalah diskusi bulanan JIL di Teater Utan Kayu,Jumat, 27 Februari 2015.
[2] Kolom Noah Friedman, Why Jordan Is Islamic State'sNext Target, dalamhttp://www.bloombergview.com/articles/2015-02-09/why-jordan-is-islamic-state-s-next-target
[3]Bayangkan, kebijakan de-Baatisasi Amerika membuat 85.000 aparatur negara Irak yang dianggap loyalis Saddam, dari eselon 1-4, diberhentikan begitu saja sehingga fungsi-fungsi pemerintahan Irak pasca-Saddam menjadi lumpuh. Yang lebih fatal lagi, Bush juga membuat 385.000 eks tentara Saddam, 285.000 polisi, dan 50.000 pasukan pengawal kepresidenan berkeliaran bagaikan monster menakutkan akibat diberhentikan dari tugas mereka. Lihat James P. Pfiffner,(February 2010). "US Blunders in Iraq:De-Baathification and Disbanding the Army".Intelligence and National Security, hal. 76–85.
[4] Madawial-Rasheed mengulas peran sentral Saudi yang sempat waswas dalam menghadapi tuntutan demokratis masyarakat Arab dalam makalahnya, Sectarianism as Counter-Revolution, pada tautan ini:https://kclpure.kcl.ac.uk/portal/en/publications/sectarianism-as-counterrevolution-saudi-arabias-response-to-the-arab-spring%288856a38b-2f10-434c-b0c7-36978bb9cd2c%29.html
[6]F. Gregory Gause, III | August 25, 2014, ISISand the New Middle East Cold War,http://www.brookings.edu/blogs/markaz/posts/2014/08/25-isis-new-middle-east-cold-war
[7] Lihatartikel Solahudin, Syria as Armageddon di Inside Indonesia pada tautanini:http://www.insideindonesia.org/syria-as-armageddon
[8] Ideology can only take youso far without a conducive political environment, kata Shadi Hamid dalam sebuah wawancaranya di tautan ini: http://blog.oup.com/2015/01/isis-ideology-conducive-political-environment/
[9] Hassan Hassan, ISIL is a complex group – it’s time we realised that. Pada tautan ini:http://www.thenational.ae/opinion/comment/isil-is-a-complex-group--its-time-we-realised-that
[10] Kaidah bahasa Arabnya berbunyi: Inna afhasya darajat at-tawahhusyakaffu min al-istiqrar tahta nizam al-kufr. Dikutip dari buku Abdel Bari Atwan, ad-Daulah al-Islamiyyah:al-Djuzur, at-Tawahhusy, al-Mustaqbal (Beirut: Dar al-Saqi, 2015) hal. 17.
[11] Lihat kolom Elliot Ackerman, 8 Agustus 2014, berjudulThe Islamic State's Strategy Was Years in the Making di http://www.newrepublic.com/article/119029/isis-iraq-strategy-was-years-making-and-mao-influenced. Lalu bandingkan tiga fase perjuangan ISIS di atasdengan rumusah Mao ini:
In phase one, theguerillas earn the population’s support by distributing propaganda andattacking the organs of government. In phase two, escalating attacks arelaunched against the government’s military forces and vital institutions. Andin phase three, conventional warfare and fighting are used to seize cities,overthrow the government, and assume control of the country.
[12] Abdel Bari Atwan, ad-Daulah al-Islamiyyah:al-Djuzur, at-Tawahhusy, al-Mustaqbal(Beirut: Dar al-Saqi, 2015), hal.124.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar